Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Buta

Pada akhirnya, kita sama-sama buta Kau tak melihatku , Dan aku tidak melihat selain dirimu .

Memanen Rindu

Inginku panen rindu yang telah ku tanam ini dari kedua bibirmu yang konon katany indah bahkan lebih manis sekedar madu juga gula batu 

Ku Jamu dengan apa

Harus ku jamu dengan apa, jika kau datang kembali? Cukupkah dengan segelas susu dan makanan ringan? Atau ku tambahkan sepiring penuh perasaan?

Cukup Kamu

Sebab di antara  sekian juta, atau pun ribu juga pun ratus, sekian puluh, jika satu itu selalu kamu, maka untukku Itu,  cukup

Lautan yang Ku Pilih

Hatinya seperti lautan Dingin, misterius, dan gelap Lalu mengapa aku memilih untuk menyelam lebih dalam?  Mengapa daksa ini memilih untuk mencari palung terdalamnya? Padahal aku pun tak tahu ada apa di disana, hewan buas yang siap menelanku? Atau mungkin aku kan tenggelam ke dasar hingga tak bisa menggapai permukaan?  Sadarku, aku seorang perenang handal.... Lalu mengapa saat ini aku lupa cara berenang dengan benar? Tapi, ini bukan soal kemampuan di permukaan...  Tapi menyelam dan bertahan hidup di dalam... Sial, daksa ini benar-benar tenggelam 

Dialog Sunyi di Ujung Malam

Mohon maaf nona Tanpa seizinmu aku dengan sadar menyebut namamu dalam dialog sunyi di ujung malam bersama Tuhanku

Sunyi

Asmarlana kita kini hanya fatamorgana Seperti bianglala yang sirna setelah hujan  Kau pergi tanpa jejak, meninggalkanku di bentala, menyulam harapan palsu dalam Gita kesunyian 

Denganmu

Jiwanya tenang Bicaranya damai Dengannya, akulah aku tak perlu menjadi palsu Denganmu aku bebas menjadi diriku sendiri

Jika

Jika kamu adalah secangkir kopi Aku akan menjadi sepotong roti yang setia menemani  Jika kamu adalah angin Aku akan menjadi layang-layang yang selalu menanti  Dan jika itu kamu Aku akan terus mencintai sepenuh hati Kamu tahu? Aku seakan tersihir oleh matamu Sebab setiap kali aku menatap matamu, aku kembali jatuh hati Bahkan disaat kamu terdiam, aku masih mencintaimu  Disaat kamu menjauh, aku masih merindukanmu  Disaat kamu menghilang, semoga kita dipertemukan di sudut bumi manapun 

Tawaran

Ku tawarkan kau puisi, tapi kau pilih buta diksi Ku tawarkan kau abadi, tapi kau pilih beranjak kaki —mungkin kau tak paham caraku mencinta Maka beritahu aku bagaimana cara mencintaimu....

Asmara Pradipa

Aku pernah ragu, pernah takut melangkah, meninggalkan yang lama demi cinta yang tak pernah bersuara. Tapi kini aku tahu, kenapa hatiku tetap berpaling padamu: karena bersamamu, aku merasa utuh, bukan semu. Bukan karena kau sempurna dalam rupa, tapi karena kehadiranmu seperti doa yang lama kutunda. Kau tak pernah memintaku memilih, tapi hatiku menjawabmu tanpa perlu diberi alasan untuk pergi. Denganmu, dunia terasa sederhana, tak butuh janji, tak perlu banyak kata. Cukup tatapan itu, cukup diam yang kita bagi, seperti semesta ingin menyatukan dua hati yang pernah sendiri. Aku yakin, karena kau tak pernah mencoba memilikiku, namun justru itulah yang membuatku ingin memilihmu. Kau tak datang dengan tuntutan dan rencana, kau hanya hadir dan itu cukup membuatku percaya. Percaya bahwa cinta tak selalu harus dimulai dengan kata, kadang hanya dengan rasa yang tak bisa dijeda. Dan dalam diam-diammu yang tak pernah memaksa, aku temukan rumah, tempat aku ingin pulang, selamanya.

Bukan Pilihan

Telah lama kuperam rasa ini dalam sunyi, berharap waktu menyembuhkan, tapi ia hanya menguji. Dia, yang setia dalam tiap langkahku, tapi mengapa hatiku tetap berlari padamu? Aku mencoba jujur pada cermin setiap pagi, mencari alasan mengapa bayangmu masih tinggal di hati. Dan pagi itu, aku sadar sesuatu yang tak bisa kubantah: kau bukan sekadar pilihan—kau adalah arah. Bukan karena dia kurang cinta, bukan pula karena kau lebih indah rupa. Tapi karena saat kulihatmu, aku merasa... seutuhnya aku. Tak perlu kita bicara panjang, diam-diammu saja sudah membuatku tenang. Dan dari semua tanya yang menghantuiku selama ini, satu jawaban muncul paling pasti: Kau tak pantas jadi pilihan kedua, karena dari awal kau bukan sekadar “jika”. Kau adalah sebab kenapa hatiku resah, dan jawaban yang tak butuh banyak kata. Maka hari ini, kutinggalkan yang lama, dengan luka, tapi tanpa dusta. Karena mencintaimu bukan soal mengganti, tapi memilih yang seharusnya sejak hari pertama hati ini tahu kau bukan piliha...

Di Antara Dia Diam

Kau datang lagi seperti hujan bulan lalu, membasahi hati yang kupikir telah kering selalu. Tapi kini aku tak bebas seperti dulu, ada tangan lain yang sedang kugenggam—walau ragu. Kau dan aku, tak pernah saling bicara, tapi kenapa rasamu begitu nyata? Setiap tatap yang tak sengaja singgah, meninggalkan tanya yang tak bisa aku abaikan begitu saja. Aku terjebak dalam sunyi yang bercabang, antara setia dan perasaan yang datang terang-terangan. Bagaimana caranya mencintai tanpa mengkhianati? Bagaimana menepis rasa yang tak kuminta ini? Dia tahu tentang duka dan bahagiaku, ia setia, hadir di hari-hariku. Tapi mengapa hatiku masih mencari kamu? Yang bahkan tak pernah menyapaku? Bingung ini jadi doa yang tak selesai, kupendam dalam malam yang memeluk resah dan keluh. Kalau cinta adalah pilihan, mengapa hati kadang memilih yang tak boleh disentuh? Kini aku berdiri di antara dua diam, yang satu kupegang, yang satu kuimpikan. Dan entah harus melangkah ke mana, ketika setiap langkah terasa salah s...

Masih Ada Namamu

Waktu berjalan tanpa jejak yang pasti,aku tetap diam, kau pun pergi.Tak ada kata, tak ada sapa, hanya kenangan di ujung mata. Hari-hari berlalu seperti angin gugur, rasa itu kupendam, kubiarkan hancur. Kupikir hanya sesaat, cinta yang fana, karena kita tak pernah bicara apa-apa. Namun takdir lucu, kadang bermain diam-diam, aku melihatmu lagi di sudut ruangan itu. Kau masih sama, meski waktu telah lewat, dan jantungku berdetak, cepat. Kau tersenyum pada angin, bukan padaku, tapi rasanya seperti dulu. Rasa yang kupikir telah padam, tumbuh lagi, tanpa aku bisa menahan. Kita tetap asing, tak ada salam, tapi hatiku ribut, hatiku bising, seolah berkata: “Lihat, dia datang.” Dan aku kembali diam, jatuh cinta untuk kedua kalinya, tanpa kata, tanpa suara, tapi penuh rasa.

Sekilas Rasa

Dalam senyap sore yang tak terencana, kulihat wajahmu, seperti luka lama sembuh seketika. Belum kutahu namamu, tapi hatiku seakan sudah hafal langkahmu. Kau datang seperti angin tanpa salam, membawa harap tanpa alasan yang dalam. Baru sekejap mata beradu, tapi rasaku sudah jauh melaju. Apa cinta harus lama tinggal untuk tumbuh? Ataukah cukup satu senyum dan hati luluh? Aku pria biasa, tanpa puisi dan bunga, tapi hari ini, aku penyair yang jatuh cinta. Mungkin kau akan pergi tanpa tahu, bahwa hari ini, hatiku jatuh padamu. Tapi biarlah, walau hanya sesaat berjumpa, namamu kini tinggal di dadaku tanpa jeda.

Nona

Kami memijak rerumputan, yang dibawahnya ada mayat dedaunan yang sudah mencoklat rapuh bersobekan. Nona, tetap saja mengunyah apa yang digenggam. Bibirnya naik turun, menari ketika menikmati tiap-tiap apa yang dicicipi. Angin, menggoda rambutnya. Mengungkap hingga memperlihat wajahnya. Mata ini terpaku, pupil yang membesat serasa tahu. Nona, panggilku. "Hhmm?", gumaman singkat yang membuat urat nadi terhambat. "Jika kau berkaca ketika malam, di danau yang ada diseberang. Aku yakin rembulan akan marah." "Mengapa?". Dia cemburu dan berkata, "Mengapa ada purnama lainnya? Yang berkeliaran di dunia? Dia marah. Sial, sang Nona tersenyum yang membuat aku hampir menyumbat nafas sambil memohon.

Serendipity

Kau adalah secangkir teh panas, dan selimut di malam hujan yang dingin Obrolan menenangkan tentang hidup disebuah dini hari yang sepi Kau adalah gesekan viola, dan denting piano di sebuah orkestra yang megah, emosi dalam puisi, juga penjiwaan dalam nyanyian  Kau adalah canda tawa di sebuah taman ria, dan mercusuar di laut yang gelap Kau adalah alasan atas senyum dan rindu, serta rasa malas di hari libur Kau adalah pelukan pada perjumpaan yang ditunggu-tunggu dan ciuman pada penantian cinta yang sangat panjang Pahamkah kau maksudku?  Kau kasih adalah nyawa dari setiap hal

Romantisasi

Maafkan jika aku terlalu meromantisasi cerita tentang kita Kita memang masih bukan siapa-siapa  Mungkin memang tak akan pernah jadi apa-apa  Biarlah, ku cicipi bahagia meski hanya khayal belaka

Satu Kali Lagi

Jika reinkarnasi itu ada dan kita hidup untuk satu kali lagi di kehidupan yang lain Ku pastikan aku akan tetap memilihmu, entah akan berakhir sama atau tidak Tapi setidaknya jika aku gagal mendapatkanmu di kehidupan ini Tolong biarkan aku mengusahakanmu di kehidupan berikutnya 

Sial

Yang paling aku benci adalah... Jika perasaan ini nyata namun tak bisa divalidasi oleh kenyataan yang ada Karna faktanya, tak sedikitpun aku berhak merasa seperti itu Aku bukan siapa-siapamu Sial, tersiksa oleh hasrat, tergerus derita  Karna khayalan