Nona

Kami memijak rerumputan, yang dibawahnya ada mayat dedaunan yang sudah mencoklat rapuh bersobekan. Nona, tetap saja mengunyah apa yang digenggam. Bibirnya naik turun, menari ketika menikmati tiap-tiap apa yang dicicipi. Angin, menggoda rambutnya. Mengungkap hingga memperlihat wajahnya. Mata ini terpaku, pupil yang membesat serasa tahu. Nona, panggilku. "Hhmm?", gumaman singkat yang membuat urat nadi terhambat. "Jika kau berkaca ketika malam, di danau yang ada diseberang. Aku yakin rembulan akan marah." "Mengapa?". Dia cemburu dan berkata, "Mengapa ada purnama lainnya? Yang berkeliaran di dunia? Dia marah. Sial, sang Nona tersenyum yang membuat aku hampir menyumbat nafas sambil memohon.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Onceview